Rabu, 03 Maret 2010

FILSAFAT DAN ALQURAN

FILSAFAT DAN ALQURAN[1]
Oleh : Andy Kurniawan, S.Pd[2]

Abstrak :
Filsafat erat kaitannya dengan hidup manusia. Filsafat merupakan proses akal manusia dalam berpikir. Filsafat merupakan pola pikir, cara memandang. Salah dalam cara berpikir akan mengakibatkan salah menafsirkan, salah menentukan sikap dan salah mengambil tindakan.Filsafat merupakan proses untuk mencari kebenaran. Suatu ilmu (science) dapat berkembang karena adanya filsafat. Dalam perjalanannya filsafat sering berhadapan dengan agama. Mengapa denikian? Apakah wahyu (agama) memang terpisah dengan akal manusia (filsafat)? Apakah akal manusia (filsafat memang tidak mempunyai tempat dalam agama)? Bagaimana pandangan Alquran terhadap akal manusia (filsafat)? Tulisan ini sekedar memberikan wawasan mengenai filsfat, ilmu dan tanggapan Alquran mengenai keduanya.

Kata kunci : Filsafat, Alquran


Pendahuluan





Setiap saat dalam hidupnya, manusia tidak akan pernah lepas dari proses berpikir. Berpikir inilah yang menjadi karakteristik manuisia. Dan karena berpikirlah maka manusia bisa disebut sebagai manusia. Manusia akan selalu berpikir untuk mencari suatu jawaban atas suatu pertanyaan, manusia akan selalu berpikir untuk menghilangkan keragu-raguan dalam hidupnya, manusia akan selalu berpikir untuk mencari suatu kebenaran yang dapat menjadi pegangan hidupnya.





Kebenaran adalah sesuatu yang sangat indah dan dapat membawa kedamaian. Kebenaran adalah satu kata yang bermakna sangat dalam dan selalu diperebutkan oleh manusia. Setiap manusia, setiap kelompok ataupun idiologi selalu menganggap merekalah yang palig benar, merekalah yang merasa sebagai pewaris kebenaran mutlak. Sehingga mereka akan bertekad untuk menyeragamkan semua manusia, semua bangsa, semua pemikiran.





Keyakinan atas kebenarannya inilah yang mengakibatkan benturan-benturan antara sesama manusia, sesama kelompok, dan sesama bangsa. Demi membela ‘kebenarannya’ seorang manusia, suatu kelompok ataupun suatu bangsa dapat menyakiti bahkan menghilangkan kehidupan manusia lain, dapat menghilangkan budaya dan peradaban bangsa lain. Akibatnya ‘kebenaran’ menjadi sesuatu yang tidak dapat dinikmati, tidak indah, dan tidak membawa kedamaian lagi. Yang terjadi hanyalah kehancuran dunia, penghancuran umat manusia, penghancuran budaya dan pengrusakan peradaban manusia.





Jika semua ‘kebenaran’ yang yang ada, merasa sebagai pewaris kebenaran mutlak, tetapi mengapa tak ada satupun yang dapat memperbaiki, membenahi kehidupan manusia, kehidupan dunia yang sudah porak-poranda ini ? Mengapa tak satupun yang dapat menciptakan ataupun dapat membina suatu kehidupan yang aman, damai sejahtera ? Mengapa tak satupun yang dapat membentuk suatu kehidupan yang Madinatul munawaroh ? Ataukah jangan-jangan semua ‘kebenaran’ yang merasa sebagai pewaris kebenaran mutlak itu ‘tidak benar’ adanya ? Apabila kebenaran telah didominasi oleh penafsiran tertentu, masihkah dapat disebut kebenaran ? Bila keliru dalam memaknai suatu kebenaran, pantaskah mengaku diri yang palilng benar ?





Berpikir pada dasarnya merupakan proses yang menghasilkan pengetahuan. Proses yang dimaksud merupakan serangkaian gerak pemikiran yang mengikuti jalan pemikiran tertentu yang pada akhirnya akan sampai pada sebuah kesimpulan berupa pengetahuan. Dalam kegiatannya, gerak pemikiran ini akan mempergunakan lambang sebagai abstraksi dari objek yang sedang dipikirkan.Salah satu dari lambang itu adalah bahasa.





Kumpulan dari pengetahuan-pengetahuan yang memiliki ciri-ciri tertentu akan membentuk suatu ilmu. Ciri-ciri inilah yang membedakan suatu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain. Ciri-ciri keilmuan didasarkan kepada jawaban yang diberikan ilmu atas apa yang ingin diketahui oleh ilmu itu, bagaimana cara memperoleh ilmu itu, dan apa nilai ilmu itu bagi kehidupan manusia.





Berfilsafat identik dengan berpikir. Berfilsafat berarti berpikir sampai ke akar-akarnya. Filsafat diartikan sebagai suat cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas tuntas segala sesuatu hingga ke akar-akarnya. Filsafat selalu menanyakan segala sesuatu dari dari kegiatan berpikir dari awal hingga akhir. Tugas filsafat bukanlah menjawab pertanyaan melainkan mempersoalkan jawaban yang diberikan. Tak ada sesuatu sekecil apapun yang terlepas dari pengamatan filsafat. Dan tak ada suatu pernyataanpun yang diterima tanpa pengkajian yang seksama oleh filsafat.





Filsafat, ada yang menyukainya tapi ada pula yang membencinya. Banyak yang mengagungkannya namun tidak sedikit pula yang menghinanya. Dalam perkembangan zaman, filsafat selalu berhadapan dengan ilmu (science) dan agama apapun.





Ada yang menganggap filsafat itu adalah sia-sia karena mempelajari sesuatu yang tidak tahu dari yang tidak tahu. Ada juga yang menganggap filsafat itu suatu kebodohan dan penyelewengan, bahkan kebingungan dan kesesatan. Ada juga yang berpendapat bahwa siapa yang berfilsafat maka butalah hatinya dari kebaikan syari’ah yang suci. Barang siapa yang mempelajarinya, maka ia berteman dengan kehinaan, tertutup dari kebenaran. Jadi apa itu filsafat? Benarkah Islam melarang manusia berfilsafat?


Peranan Filsafat

Pengtahuan manusia secara umum dapat digolongkan ke dalam dua bagian, yaitu pengetahuan yang berasal dari menusia sendiri dan pengetahuan yang dipercayai berasal dari pencipta manusia yang diistilahkan dengan wahyu. Pengetahuan manusia digolongkan dalam tiga bagian, yaitu pengetahuan indera, ilmu dan filsafat.





Pengetahuan indera diperoleh sebagai hasil pengalaman indea manusia melalui proses pemikiran. Ilmu diperoleh sebagai hasil berpikir secara sistematis dan radikal disertai riset dengan menggunakan metoda tertentu. Filsafat didapat sebagai hasil berpikir yang sistematis, radikal dan universal. Filsafat mencakup segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh akal manusia bersifat alami dan relatif. Ilmu bertugas menjangkau segala sesuatu yang berada dibalik pengatahuan indera. Ketika ilmu sampai pada batas kemampuannya, maka permasalahan itu diserahkan kepada filsafat.





Filsafat sesungguhnya berada ditengah-tengah kehidupan manusia, ada dalam sikap dan perbuatan manusia sehari-hari. Filsafat membentuk pandangan dan sikap hidup yang mengendalikan tingkah laku sehari-hari. Filsafat berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan (kebijaksanaan). Pengetahuan (kebijaksanaan) eken memberikankebenaran. Manusia yang mencintai pengetahuan (kebijaksanaan) dan mencarinya tentunya manusia yang cinta pada kebenaran. Mencari kebenaran ini merupakan karakteristik filsafat. Kebenaran yang dicari adalah kebenaran yang menyeluruh, yang universal, bukan kebenaran yang sekeping-sekeping. Oleh karena itu filsafat dapat dikatakan sebagai sistem kebenaran tentang sesuatu.





Berfilsafat adalah proses mencari kebenaran dari kebenaran segala sesuatu yang dipermasalahkan, untuk suatu suatu kebenaran, dengan berpikir secara radikal, sistematis dan universal. Sedangkan filsafat adalah sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil berpikir secara radikal, sistematis dan universal.





Filsafat bisa tercapai dengan kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah. Kemampuan itu diperoleh dengan mengerahkan segenap pikiran untuk mengetahui kebenaran. Kemampuan itu akan terwujud apabila ada kesanggupan untuk mengetahui bahwa perkara yang salah dan menjauhinya.Kkesanggupan untuk mengetahui kesalahan yang kelihatannya benar, sehingga tidak tertipu. Kesanggupan untuk mengetahui suatu hal yang hakikatnya benar tapi kelihatannya salah, sehingga tidak menyalahkanya.





Filsafat berkewajiban menyelidiki sebab dan asas segala sesuautu. Filsafat bersifat ilmu yang umum yang menjadi dasar segala ilmu.. Sebab awal atau sebab pertama termasuk bidang kajian filsafat. Sedangkan sebab dari kejadian masuk bidang kajian ilmu. Filafat adalah induk segala ilmu. Filsafat yang menggerakkan dan melahirkan berbagai ilmu. Suatu masalah yang dibahas oleh filsafat dapat menggerakkan para ahli untk melakukan riset sehingga menghasilkan suatu ilmu. Ilmu mencari kebenaran dari suatu kenyataan tertentu. Sedangkan filsafat mencari kebenaran dari seluruh kenyataan. Filsafat mencari kebenaran dari suatu ilmu.





Makhluk yang berpikir adalah manusia. Dan manusia yang berpikir adalah filosof. Tetapi berpikir tidak berarti berfilsafat. Berpikir yang berfilasfat apabila memenuhi tiga criteria yaitu:
- berpikir radikal, berpikir sampai ke akar-akarnya. Sampai pada konsekuensinya yang terakhir. Tidak berpikir setengah-setengah, tidak berhenti di tengah jalan, tetapi terus sampai pada ujung permasalahan. Tidak ada yang tabu, tidak ada yang suci, tidak ada yang terlarang bagi berpikir radikal.
- Berpikir sistematis adalah berpikir logis, bergerak setahap demi setahap dengan penuh kesadaran dan dengan urutan yang dapat dipertanggung jawabkan serta saling berhubungan dan teratur.
- Berpikir universal, tidak berpikir khusus dan terbatas pada bagian-bagian tertentu, tetapi mencakup keseluruhan.

Filsafat dimulai karena adanya ketakjuban, keheranan yang menimbulkan rasa ingin tahu. Manakala keheranan, ketakjuban itu menjadi serius dan penyelidikan menjadi sistematis, saat itulah filsafat dimulai. Filsafat memberikan interpretasi atas kenyataan-kenyatan yang dihadapi oleh manusia tiap kurun waktu, sehingga membentuk pandangan dan sikap hidup.





Filsafat juga dimulai karena adanya kesangsian (skeptis). Kesangsian adalah rasa antara percaya dan tidak percaya. Karena kesangsian in, maka pikiran manusia bekerja untuk sampai pada satu titik hingga ditemukan kebenaran yang membuat kesangsian itu lenyap, dan disaat itu juga pikiran berhenti berpikir. Dari proses berpikir itu akan tersusun suatu sistem pengetahuan yang dinamakan suatu filsafat. Tanpa ada kesangsian manusia tidak akan berpikir. Tanpa berpikir filsaaft tidak akan lahir. Tanpa berpikir ilmu tidak mungkin akan terbentuk. Tiap penemuan dimulali dengan tanda Tanya yang menunjukan adanya kesangsian.


Ilmu dan Filsafat

Kata Ilmu berasal dari bahawa Arab (’alama) yang berarti pengetahuan. Dalam bahasa Inggeris disebut dengan science. Ilmu adalah pengetahuan yang riil, pasti dan terorganisir dengan baik. Ilmu dapat digolongkan ke dalam dua bagian besar, yaitu ilmu murni yang bersifat teori dan ilmu terapan yang bersifat praktis dan aplikasi. Ilmu terapan merupakan kelanjutan dari ilmu murni. Ilmu murni inilah yang berkaitan erat dengan filsafat.





Ilmu merupakan pelukisan fakta pengalaman secara lengkap dn konsisten dengan menggunakan istilah-istilah sesederhana mungkin. Pelukisan fakta dilakukan dengan jalan membentuk definisi dan gambaran umum, melakukan analisa tentang fakta tersebut, dan mengklasifikasi kan fakta-fakta tersebut. Pejelasan fakta merupakan proses menentukan sebab dan merumuskan hukum.
Tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan oleh pengeatahuan. Tiga karakteristik filsafat adalah menyeluruh (integral), mendasar (fundamental), dan spekulatif. Ilmu tidak dapat dikenal hanya dari sudut pandang ilmu itu sendiri, akan tetapi perlu juga dilihat hakikat ilmu tersebut dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Suatu ilmu perlu dipertanyakan kebenarannya, bagaimana proses penilaian kebenaran itu, apa criteria kebenaran itu. Ibarat sebuah lingkaran, maka pertanyaan itu akan melingkar. Oleh karena itu seorang filosof harus memulai dari satu titik sebagai titik awal dan sekaligus titik akhir dariproses berpikirnya. Seorang filisof akan berspekulatif dalam menentukan titik awal dan akhir tersebut.





Seperti halnya ilmu, filsafat juga mencari pengetahuan yang benar, yang pasti, teratur dan sistematis. Tetapi kepastian pengetahuan filsafat tidak mungkin dapat diuji seperti halnya pengetahuan ilmu. Jika ilmu tersusun dari hasil riset , maka riset pula yang akan menguji kebenaran pengetahuan ilmu. Jika filsafat tersusun dari hasil berpikir yang radikal, sistemasis, dan universal, maka keradikalan, kesistemasisan dan keuniversalan pemikiran pulalah yang akan menguji kebenaran pengetahuan filsafat. Pemikiran lah yang akan menerima ataupun menolak pengetahuan filsafat. Kebenaran ilmu sepanjang pengalaman, sedangkan kebenaran filsaft sepanjang pemikiran.





Ilmu mencari pengetahuan dari segi tertentu, bidang khusus, menjawab pertanyaan tentang fenomena alam. Filsafat mencari pengetahuan dari semua segi dan bidang secara menyeluruh. Bila ilmu menggambarkan dan menjelaskan fakta, maka filsafat mencari hakikat, esensi dari fakta. Filsafat mencari sebab ilmu, mencari ujung dari ilmu. Sebagai ilustrasi, ilmu mempelajari kehidupan manusia sejak dari pembuahan hingga kematiannya. Sedangkan asal mula kehidupan dan kejadian setelah mati dipelajari ole filsafat. Ilmu hanya menggambarkan fakta, sedangkan filsafat menafsirkan fakta-fakta tersebut.


Filsafat mencari sesuatu yang terkandung oleh yang ada, manjangkau sesuatu yang berdiri di belakang yang ada itu. Filsafat mempersoalkan alat yang dipergunakan oleh ilmu. Dua hal tugas filsafat yang tidak dipakai oleh ilmu adalah :


- refleksi terhadap pdunia secara menyulh, khususnya terhadap makna, tujuan dan nilai (disebut filsafat spekulatif).
- menguji pengertian, baik yang dipakai oleh ilmu maupun oleh anggapan umum secara kritis (filsafat kritis).
- Ilmu diperoleh dengan melalui tahapan-tahapan prosedur ilmiah, yaitu adanya masalah, hipotesis, ekxperimen, dan kesimpulan berupa teori. Ilmu bersifat sementara dan relatif.


Penemuan baru dapat menggugurkan teori lama, dapat mengubah pandangan atas teori yang sudah ada sebelumnya. Ilmu berasaskan pengalaman, sedangkan filsafat mempersoalkan pengalaman. Ilmu mempertentangkan objek dan subjek. Objek dipersoalkan satu per satu, langkah per langkah, sehingga dapat diulang dan diuji kebenarannya. Ilmu membatasi diri pada kenyataan tertentu. Filsafat mempersoalkan subjek dan objek secara keseluruhan. Filsafat mencari hakikat semua kenyataan.


Pandangan Alquran Tentang Ilmu dan Filsafat

Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, ilmu bermakna keterangan yang seobjektif-objektifnya atau pengetahuan. Kata ilmu merupakan unsur serapan dari bahasa Arab yaitu ‘ilman. Dalam bahasa Arab, ilmu diartikan sebagai pancaran jiwa (nurun fil qolbi). Menurut Al Ghazali dlam ihya ulumudin, ilmu itu merupakan suatu yang terpancar dari dalam hati yang bisa memisahkan antara yang haq dan yang bathil. Definisi ilmu sebagai pancaran jiwa ini lebih mementingkan keyakinan manusia daripada fakta sebagai pembuktian. Definisi ini cenderung mendekati paham idealisame yang dikembangkan oleh Plato seorang filosof Yunani. Paham idealisme memandang ilmu yang bersumber dari jiwa manusia sebagai proses intuisi dan alam sebagi objek studinya. Selanjutnya objek akan memberikan umpan balik pada kesadaran manusia sehingga membentuk pandangan terhadap objek. Menurut Von, pada zamannya idealisme Plato ini diannggap sebagai permainan pikiran dari orang yang sakit ingatan tetapi kemudian akan menentukan jalannya sejarah.


Definisi lain dari ilmu yaitu science yang diserap dari bahwa Inggeris yang dimaknai dengan organized body of principles supported by facts (rangkaian keterangan yang teratur dalam keseluruhan yang didukung oleh fakta). Untuk menghasilkan suatu ilmu harus melalui tahapan experience, eksperiment, knowledge, dan science. Pendapat ini bersumber pada paham naturalisme yang menyatakan bahwa ”segala yang benar-benar berujud adalah nature yang bersifat benda atau nature itu sendiri. Segala proses kejadian, pertumbuhan, aktivitas dan sebagainya terjadi karena sifat nature itu sendiri”. Paham naturalisme ini berpendapat bahwa ilmu sebagai hasil pantulan (refleks) dari objek kepada manusia sehingga membentuk pandangan manusia dalam memperlakukan objek.


Paham naturlisme ini terpecah ke dalam dua golongan besar, yaitu macroatomisme (alam besar) dan microatomise (alam kecil). Peletak dasar Macroatomisme adalah Heraclitos. Paham ini berpandangan pada benda-benda angkasa yangbergerak dengan teratur. Selanjutnya filosofi ini diterapkan dalam kehidupan berbudaya sehingga mengujud menjadi paham individualisme dan liberalisme. Microatomisme dicetuskan oleh Aristhoteles. Paham ini berpandangan pada kehidupan biologis manusia yang terdiri dari berbagai sel, jaringan dan syaraf yang saling menopang satu dengan yang lainnya. Paham ini kemudian mengujud dalam kehidupan berbudaya membentuk paham kolektivisme dan komunisme.


Dalam perkembangannya ketiga paham besar tersebut, yaitu idealisme, macroatomisme, dan microatomisme mencengkramkan pengaruhnya hingga mengakar di masyarakat. Selanjutnya paham-paham itu membentuk daerah kekuasaan (imperium) masing-masing, dan pada akhirnya akan berbenturan yang mengakibatkan pertumpahan darah antara sesama manusia. Gambaran kehidupan mereka seperti dijelaskan oleh Al quran surat Al Ankabut ayat 41 : “Perumpamaan kehdupan mereka yang berlaku dzulumat yaitu yang memberlakukan ajaran selain dari ajaran Allah menurut sunah rasul, bentu kehidupan mereka bagaikan sarang laba-laba”. Selanjutnya pada Surat Al Hijir ayat 43-44 dijelaskan : “Sesungguhnya jahanam adalah benar-benar tempat bagi mereka yang berlaku dzulumat (43) Wujud kehidupan yang demikian bagaikan bangunan bertingkat tujuh yang setiap tingkatnya memuat kelompok masing-masing (44)”.


Demikianlah gambaran Al quran atas kehidupan manusia yang kekeliruan mengambil makna sebagai akbibat dari kekeliruan cara berpikir. Mengenai cara berpikir ini, Al quran telah memberikan penjelasan pada surat Ar Rahman ayat 1-8 : Yakni Dia (allah) yang telah mengajarkan satu ajaran yang bernama Al quran (1-2) Dia yang telah menciptakan sekalian insane (3) Dia yang telah mengajarkan satu ajaran yakni Al quran sebagai satu rangkaian keterangan (4) Yaitu mengenai matahari dan bulan (astronomi) dengan satu asas matematik yang hebat tiada tanding (5) Yaitu mengenai bintang kemintang sebagai satu peristiwa organis. Dan tumbuh-tumbuhan sebagai satu peristiwa biologis. Yang keduanya tunduk pada asa yang demikian (6) Yaitu mengenai semesta angkasa yang Dia bangun dan mewujudkannya menjadi sistem yang setimbang. Begitulah Al quran menurut sunah rasulnya untuk budaya (7) Hendaklah kalian jangan mengacau tatanan hidup yang telah setimbang (8).


Surat tersebut menjelaskan bahwa Al quran sebagai al bayan yang memberikan penjelasan dan bimbingan bagaimana seharusnya memperlakukan alam. Rangkaian keterangan sebagai ilmu yang menerangkan alam yang terdiri atas matahari, bulan, bintang, dan seluruh kehidupan biologi sebagai pembuktian dari ilmu Allah. Surat tersebut juga memberikan satu pola berpikir pada manusia yaitu sebagai subjek yang tergantung pada Allah dalam memandang objek yang juga bergantung pada Allah sebagai penciptanya. Dengan perkataan lain ilmu dalam pandangan Al quran adalah rangkaian keteranngan yang teratur yang bersumber dari Allah menurut sunah rasulNya yang menerangkan semesta kehidupan yang bergantung pada Allah.


Mengenai cara berpikir (berfilsafat), Allah telah memberikan dua jalan kepada manusia seperti terdapat pada surat Al Balad ayat 10 : “Dan Kami ajarkan kepadanya Al quran yang mempunyai dua sudut memandang:. Yaitu Nur dan Dzulumat. Cara berpikir nur adalah cara berpikir seperti yang telah dijelaskan oleh surat Ar Rahman di atas, yaitu cara berpikir yang bergantung pada Allah. Sedangkan cara berpikir dzulumat adalah cara berpikir para pencoleng ilmu Allah yang kemudian di akui sebagai pentulan (refleks) dari alam ataupun intuisi (defect) dari pacaran jiwa.


Pola berpikir yang bergantung pada Allah ini dijelaskan pada surat Yunus ayat 5-7 : “ Dia (Allah) yang seperti halnya Dia menjadikan matahari memancarkan sinar terang dan rembulan adalah pemantul sinar. Yakni Dia memastikan yang demikian menjadi berbagai posisi guna memberikan satu ilmu kalenderisasi dan matematika dimana Allah tidak menciptakan yang demikian kecuali menjadi objektif ilmiah. Begitu Dia menurunkan Al quran ini guna mengklasifikasikan pembuktian-pembuktian ilmiah bagi golongan manusia yang mau memiliki satu ilmu agung.


Dalam surat An Nur ayat 35 dijelaskan : “ Allah seperti halNya Dia adalah pencipta/pemantul semesta kehidupan organis biologis,begitu dengan penurunan Al quran ini sebagai satu pemantul peradaban/kebudayaan. Perumpamaan Al quran satu pemantulNya ini adalah sebuah kandil yang di dalamnya ada sebuah lampu sebagai pemantul terang yaitu bagaikan bagaikan satu lampu di dalam sebuah tabung kaca yang bagaikan satu bintang pemantul pemantul terang yang dinyalakan oleh semacam perahan dari sejenis pohon zaitun yang tidak pernah tumbuh di dalam blok timur, juga tidak di dalam blok barat, yang hampir sejenis perahan itu sendiri menimbulkan nyala namun tidak disentuh api.begitulah Al quran ini satu pemantul nuurun ‘alla dan nuurin dengan mana Allah memberikan satu petunjuk untuk hidup menurut Nur Nya ini bagi siapa saja yang menghendaki demikian, dan Allah memberikan berbagai ungkapan guna kemantapan manusia dengan satu kehidupan yaitu Allah hsebagai pembuktianNya adalah Pembina ilmu yang mencakup setiap apapun tiada tanding. Demikian cara berpikir Al quran. Satu bagian yang bersudut Nur yang bergantung pada Allah. Dan satu bagian yang tidak mau tergantung pada Allah yang disebut dzulumat.


Surat Yunus di atas menjelaskan bahwa matahari sebagai sumber cahaya memancarkan sinarnya kepada bumi dan bulan. Kemudian pada saat malam (gelap) bulan memantulkan sinar matahari ke bumi sehingga seakan-akan bulanlah yang menjadi sumber sinar. Kenyataan hidup yang sadar bahwa matahari sebagai sumber terang adalah cara berpikir Nur. Sedangkan kenyataan hidup yang mengganggap bulan sebagai sumber terang adalah cara berpikir dzulumat. Cara berpikir dzulumat menganggap tabung kaca sebagai sumber cahaya. Cara berpikir dzulumat menghilangkan nyala lampu di dalam tabung kaca dalam pandangannya.


Allah selalu menganjurkan manusia untuk berfilsafat (berpikir). Tidak ada larangan bagi manusia untuk mengembangkan pemikirannya (berfilsafat). Dalam Al quran ditegaskan “apala ta’kilun apala tafakarun” . Permasalahannya bagaimana cara manusia itu berfilsafat (berpikir) dan dengan apa manusia berfilsafat (berpiir). Dalam surat Ali Imran ayat 190-191 dijelaskan : ”Sesungguhnya ciptaan Allah dalam ujud kehidupan semesta angkasa dan bumi ini yang beredar ke dalam permukaan malam dan siang adalah sebagai fakta pembuktian ilmiah bagi mereka yang hatinya mantap dengan Al quran (190). Yaitu mereka yang sadar dengan ajaran Allah dalam segala situasi dan kondisi, yakni mereka yang berpikir dengan Al quran ini perihal ujud kejadian alam angkasa dan ujud kehidupan di bumi sehingga menyatakan sikap : Wahai pembimbing kami, Anda telah menciptakan yang demikian itu bukanlah menurut sistem bathil, seperti halnya semesta kehidupan in adalah kesibukan menurut Anda, maka dengan Al quran ini bebaskanlah kami dari kehidupan nista sebagai hasil pilihan dzulumat yang bagaikan api habis membakar”.


Pola brpikir seperti yang telah dikemukakan dalam ayat-ayat di atas bila diungkapkan dalam bentuk matematis akan membentuk vektor segitiga dengan Allah sebagai pusatnya (titik A) dan manusia (titik B) serta alam (titik C) merupakan dua titik yang saling berhubungan yang kesemuanya bergantung pada Allah (seperti gambar di atas).


Alam, termasuk di dalamnya biologis manusia sudah tunduk pada ketentuan Allah (atahaina thoi’in), alam telah berjalan sesuai dengan hukum alam (sunatullah). Budaya (pola pikir) manusialah yang sukar untuk tunduk pada ketentuan Allah. Oleh karena itulah diturunkan Al quran sebagai al furqon, sebagai pedoman bagi manusia (subjek) yang bergantung kepada Allah dalam memperlakukan alam (objek) yang juga bergantung kepada Allah. Dengan kesadaran berpikir seperti ini maka akan tercipta satu keharmonisan antara manusia dan alam, akan tercipta simbiosis mutualism antara manusia dan alam. Tak akan terjadi pengrusakan terhaadap alam, takkan terjadi pertikaian dan pertumpahan darah antara sesama manusia. Manusia dengan kesadaran berpikir seperti inilah yang layak disebut sebagai kholifatul fil ardh, wakil Allah dimuka bumi ini.


Penutup

Filsafat pada dasarnya adalah akal. Manusia yang tidak berakal tidak akan berpikir. Filsafat selalu mempersoalkan suatu jawaban. Karena hal inilah maka ilmu (sciense) dapat berkembang. Filsafat selalu berusaha mencari suatu jawaban atas suatu keragu-raguan. Flsafat selalu berusaha mencari suatu kebenaran yang hakiki yang dapat diyakini untuk menjadi pegangan hidup. Dengan filsafat manusia tidak akan menjadi taklid buta dan dogmatis. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang mengerti denagn kemengertiannya? Dan serendah-rendah manusia adalah yang tidak mengerti dengan ketidakmengertiannya? Seandainmya harus memilih, maka lebih baik memilih mengerti dalam ketidakmengertian daripada tidak mengerti dalam kemengertian.


Filsafat berkaitan erat dengan pola pikir atau cara memandang sesuatu objek. Keliru dalam cara berpikir, keliru dalam memandang suatu objek akan mengakibatkan keliru dalam mengambil makna, keliru dalam menafsirkan. Keliru dalam penafsiran akan mengakibatkan keliru dalam menentukan sikap. Keliru mengambil sikap mengakibatkan keliru dalam bertingkah laku, keliru dalam mengambil tindakan. Kekeliruan inilah yang mengakibatkan filsafat tidak sukai, dibenci dan selalu bertentangan dengan agama.


Dalam berfilsafat harus disadarai bahwa kebenaran mutlak hanya milik pencipta alam semesta. Manusia hanya mampu berproses untuk menghampiri atau mendekati kebenaran itu, sehigga kebenaran dalam diri manusia selalu bersifat tentatif dan relatif.


Sebagai akibat dari kekeliruan berfilsfat maka timbulah pendapat bahwa wahyu (revelation) merupakan sesuatu yang berbeda dari akal (reason). Bahwa agama (revelation) merupakan hal yang terpisah dari sekuler (filsafat/penalaran manusia). Pendapat seperti ini amat bertentangan dengan Alquran. Alquran mencakup religius dan sekuler sekaligus.


Alquran merupakan wahyu yang senantiasa mengajak manusia berdialog dan bernalar. Alquran tidak menngabaikan akal manusia. Alquran juga tidak membiarkan akal fikiran manusiamenjadi bebas liar tak terkendali, tetapi juga tidak membunuhnya. Alquran senantiasa membimbing manusia yang berusaha memahaminya. Namun yang menjadi pertanyaan apakah memang ilmu yang ada sekarang ini menjauhi Alquran? Ataukah kita yang memang tidak mampu mengikuti dan menposisikan Alquran ditengah-tengan kancah ilmu pengetahuan ?


Ilmu merupakan hasil nalar manusia yang didasarkan pada pengamatan maupun pengalaman terhadap alam. Namun sebagai seorang muslim, kita juga harus yakin kepada sumber lain yaitu wahyu. Kekuatan kedua sumber ini harus seimbang karena keduanya merupakan bahasa Tuhan untuk berdialog dengan manusia. Keduanya saling mengisi. Sebagai seorang muslim, fungsi ilmu haruslah menopang kehidupan yang baldatun thayibatun wa robbul ghofur. Terciptanya kehidupan yang manusiawi akan menciptakan pula lingkungan hidup yang manusiawi. Hal ini hanya bisa didapat apabila ilmu dikreasikan oleh manusia diselaraskan dengan ilmu yang dipetik dari wahyu. Ilmu yang demikianlah yang mampu memperkuat keimanan dan memperbaiki kehidupan, Ilmu yang tidak berlawanan dengan huda yang merupakan jalan peribadatan dan membantu memperbaiki akhlak manusia sehingga pelaksanaan ilmu tidak akan mengganggu bahkan menunjang jalannya sistem kehidupan alami yang ada.


Dengan berfilsafat (berpikir) manusia akan berijtihad. Dengan berfilsafat (berpikir) manusia tidak akan menjadi taklid dengan membabi buta. Dengan berfilsafat (berpikir) manusia bisa memberikan alasan mengapa harus memerima ataupun harus menolak. “laa tuharik bihi lisaanaka lita’jala bihi”, jangan terburu-buru menerima sebelum tahu secara pasti, jangan terburu-buru menolak sebelum jelas alasannya.


Kepustakaan

Al Malay Ekky, 2001, Filsafat Untuk Semua, Lentera Basritama, Jakarta.
Aly Abdullah dan Eny Rahma, 1994, Ilmu Alamiah Dasar, Bumi Aksaara, Jakarta.
Gazalba Sidi, 1973, Sistematika Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta.
Hanafi A, 1983, Filsafat Skolastik, Pustaka Alhusna, Jakarta.
Hassan Fuad, 1996, Pengantar Filsafat Barat, Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.
Suria Sumantri Jujun, 2000, Filsfat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Suria Sumantri Jujun, 1987, Ilmu Dalam Perspektif, Gramedia, Jakarta.
Van Peursen C.A, 1989, Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu, Gramedia, Jakarta.





[1] Dismpaikan pada LK I HMI Kom. Univ. PGRI Palembang. Pada tanggal 20 Mei 2009
[2] Tenaga Pengajar di Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas PGRI Palembang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar