Rabu, 07 April 2010

Satu Ayat dalan al-Qur’an menyaakan ”Jagalah dirimu dan keluargamu dari Nar”. Nar berarti kehidupan yang panas bagaikan di atas api, kehidupan yang saling membakar, saling merusak. Nar oleh ahlli tafsir diterjemahkan sebagai api neraka atau neraka yang merupakan tempat pembalasan, tempat pencucian dosa dan kesalahan bagi orang Islam yang kemudian akan mesuk ke dalam surga setelah mendapatkan syafa’at nabi. Neraka ditafsirkan sebagai suatu tempat yang berada ”nun jauh di sana” yang berada dalam alam lamunan yang baru akan dirasakan nanti, bukan sekarang.

Pada ayat yang telah dikemukakan di atas, adakah perintah bagi kita untuk menjaga orang lain dari nar ? Sama sekali tidak ada. Tugas kita kepada orang lain hanya sebatas memberitahu (balighu) ataupun mengingatkan (menasehati). Sampaikan jika belum tahu, ingatkan jika lupa, nasehai agar tak tergellincir.

Bila kita lihat sejarah, rosul menyampaikan berita kepada masyarakat di zamannya melalui uatu proses, melalui suatu perjalanan panjang, bukan seperti membalik telapak tangan. Semua membuuhkan waktu, kesapan fisik dan psikis, serta memerlukan pengorbanan yang tidak sedkit, baik materi maupun moril. Pabila proses perjalanan beliau itu di runut, bagakan melalui setip titik yang pada akhirnya akan membentuk sebuah garis yang tak terputus. Dan untuk selanjutnya kuasa Tuhanlah yang berlaku.

’Ina sa’aa khodzu ...’ Apabila saatnya telah datang, tak ada satu kekuatanpun yang dapat menghalangi. Semua ada waktunya. Tugas kita hanyalah membina diri, membina iman kita seperti penjelasan yang terdapat pada QS. Al-Muzammil dan QS. Al-Mudatsir.

Akan tetapi terkadang karena dibuai oleh suatu harapan indah dan khayalan tentang syurga, kita serig terjebak untuk memaksa bahkan bila perlu dengan kekerasan agar orang lain mau mengikuti pemahaman, pemikiran seperti kita. Sehingga tanpa disadari kita telah menanamkan bibit kebencian, dendam, dan amarah serta rasa tidak simpati. Orang mengikuti kita karena suatu keterpaksaan, tunduk karena takut, mereka merasa terjajah. Dan tentunya suatu saat mereka akan balik menyerang kita. Inikakah penyebab pecahnya perang salib pada masa lalu ???

Dan perlu juga untuk selalu diingat, bahwa dalam memberi tahu, ataupun mengingatkan, mestilah dengan cara yang santun, bukan dengan cara memaksakan kehendak. Tugas kita hanyalah sebagai ’penyampai’ bukan sebagai ’pemberi petunjuk’. ”Innaka laatahdii man ahbabta walakinallaha yahdii mayyasa’. Anda bukanlalh pemberi hudaa pada orang yang anda cintai sekalipun, melainkan Allah... Pada aya lain dikatakan ”Laa ikroha fiddin...”. Tuhan saja yang punya kuasa atas semesta ini tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada mahluk ny. Kenapa kita manusia, sebagai makhluk ciptaan Tuhan berana malampaui kuasa Tuhan dalam memaksakan kehendak, memaksakan pikiran kita pada orang lain ??? Yang seperti inikah sunnah rosul ???

Titik temu antar agama

Titik temu antar agama

Pada tingkat bawah setiap agama akan saling dan selalu berhadapan. Sedangkan pada titik tertinggi (Tuhan) akan terdapat titik temu dari setiap agama.

Kesatuan berbagai agama terjadi pada tingkat esoteris yang tersembunyi dan bersifat rahasia. Karena kebenaranyang merupakan rahasia itu terbenam dalam timbunan unsur yang maha suci. Hal inilah yang menyebabkan tidak dapat meyakinkan kebanyakan orang.

Kaum esoteris menghormati keyakinan kaum eksoteris, karena keyakinan tersebut didasarkan pada kitab sebagai inkarnasi sejati dari Tuhan. Namun kaum esoteris tidak dapat menerima keyakinan kaum eksoteris yang percaya bahwa yang menjadi sumber wahyu yang mereka yakini iu adalah satu-satunya cara Tuhan yang paling luhur dalam berbicara dengan manusia.

Sebagian pandangan kaum esoteris tampak gelap bagi kaum eksoteris. Suatu pandangan yang berbeda dengan kebenaran yang terlihat di mata mereka.

Keyakinan kaum eksoteris didasarkan pada bentuk aau ujud keyakinan, seperti kitab, nabi, dan lain-lai. Menurut kaum esoteris, jika wahyu beragam dan sama bentukya, maka tidak ada yang mutlak.

Tuhan dengan sifatnya yang Esa, namun kehadirannya oleh personal diampakkan dalam ujud yang berbeda-beda sesuai denganciri dan kabut yang beragam dari berbagai manusia. Jadi mengapa manusia harus saling membenci, bermusuhan, saling membunuh hanya demi mengharapkan ridha Tuhan yang Satu ??? Tuhan yang sama ???

Keyakinan, Pengetahuan Dan Pengalaman

Keyakinan, Pengetahuan Dan Pengalaman

Dalam kehidupan yang fana ini, kita sering meragukan keyakinan kita sendiri, bahkan kita sering menolak kenyataan hidup yang menyakitkan yang harus kita alami. Mengapa ???

Hal ini terjadi karena ’keyakinan’ kita atau apa yang telah menjadi keyakinan kita selama ini, apa yang telah diajarkan pada kita sedari kecil oleh keluarga dan lingkungan kita yang telahmenjadi suatu dogma dalam hidup kita, yang telah tertanam dan terkonsep demikian rapi dalam pikiran kita pada kenyataannya tidak sesuai dengan pengetahuan yang kita pelajari di kemudian hari, dan tidak sejalan dengan pengalaman yang kita peroleh. Keyakinan tdak sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman.

Ketika kita mendapatkan suatu kesenangan, suatu kebahagiaan, maka pikiran dan perasaan kita tentu saja akan bisa menerimanya sebagai suatu takdir, suatu ketentuan hidup yang memang harus diterima dan jalani. Akan tetapi pada saat kita mendapatkan hal yang menyedihkan, yang menyusahkan, yang menyengsarakan, yang menyakitkan, maka akal pikiran dan perasaan hati kita akan selalu mencari-cari alasan untuk menolaknya sebagai suatu takdir, suatu ketentuan hidup yang memang harus diterima.

Karena adanya usaha untuk melakukan penolakan tersebut akan menimbulkan kesenjangan antara harapan yang indah dengan kenyataan pahit yang harus dijalani. Masalah ini akan menimbulkan penyakit hati dan pikiran yang akan selalu merongrong dan merusak kehidupan kita, kehidupan di sekitar kita.

Kenapa ???

Kenapa ???

Kenapa Sang Wisnu

Harus kembali menjelma

Sebagai Sri Rama ???

Mengapa Wisnu Sang Pengatur

Mesti terlahir ke dunia

Menjadi Sri Kresna ???

Apakah karena Sri Rama

Harus membasmi

Keangkara murkaan Rahwana ???

Apakah karena Sri Kresna

Harus memberikan wejangan

Kepada Pandawa ???

Lalu bagaimana dengan diriku ???

Mengapa diriku mau terlahir kembali

Ke dunia fana ini ???

Apa yang menjadi tugasku ???

Hai Penguasa kehidupan….

Beri aku jawaban….

Palembang, May 14th 2005

AKU

AKU

Jangan menilai Ku

Karena kau….

Takkan pernah….

Memahami Ku

Jangan memikirkan Ku

Karena kau….

Takkan pernah….

Mengenal Ku

Lepaskan segala ikatan

Kosongkanlah pikiran

Dalam kehampaan

Kau….

Akan merasakan….

Keberadaan Ku

Dalam ketiadaan

Kau….

Akan merasakan….

Kehadiran Ku

Rasakan keberadaan Ku

Dengan segenap hati

Maka kau….

Akan memahami Ku

Rasakan kehadiran Ku

Maka kau….

Akan memiliki Ku

Bebaskan….

Bebaskan….

Wahai….

Sang penguasa Kehidupan

Bebaskanlah aku

Dari segala keterikatan

Yang membelenggu

Hidupku….

Yang membelenggu

Jiwaku….

Palembang, May 14th 2005

Bahagia dan Derita

Bahagia dan Derita

Dunia….

Fana….

Identik dengan derita dan kesenangan

Identik dengan bahagia dan tantangan

Turun kembali ke dunia

Berarti telah siap dengan

Segala sesuatunya

Mengapa ada bahagia ???

Mengapa ada derita ???

Apa itu bahagia ???

Apa itu derita ???

Bahagia dan derita

Ibarat dua sisi mata uang

Bila hilang salah satunya

Maka yang lain

Akan menjadi tak berarti

Mengapa takut akan derita ???

Semua ada dalam suratan takdir

Hidup menjadi lebih berarti

Bila ada

Derita dan Bahagia….

Palembang, May 14th 2005

Apakah ….

Apakah ….

Apakah ….

Memang benar aku harus kesepian ???

Apakah ….

Memang benar aku harus sendirian ???

Apakah ….

Memang benar takkan pernah ada

Yang memahamiku ???

Apakah ….

Memang benar aku harus menjadi

Seorang munafik sejati ???

Palembang, May 14th 2005

Apa itu “Iman” ?

Jika iman hanya sebatas “Percaya”, maka apa bedanya “Iman atau percaya” kita kepada Tuhan dengan “Iman atau percaya” kita kepada syetan ??? Jika benar “Iman” kita selama ini hanya “Percaya”, berarti selama ini pula kita telah menyamakan, menyetarakan, mensejajarkan antara Tuhan dan Syetan. Sadarkah kita ???

Jadi apa makna yang terkandung dalam kata “Iman” itu ???

Banyak penjelasan yang menerangkan tentang “iman” ini. Hadist yang cukup gamblang menjelaskan tentang “Iman” ini antara lain :

- Al ‘Imanu ‘aqdun bilqolbi wa iqrorun bilisaani wa amalun bil arkaani.

- Al ‘Imanu tashdiqun bilqolbi wa iqrorun bilisaani wa amalun bil arkaani.

- Al ‘Imanu ma’rifatun pilqolbi wa iqrorun bilisaani wa amalun bil arkaani.

Nyatanya “Iman” itu bukanlah hal yang mudah untuk dipahami, untuk dilakukan, dan dicapai. Jika memang mudah, mengapa begitu banyak keterangan yang menjelaskan tentang “iman” ???

Apakah “iman” itu dapat kita ketahui ataupun kita rasakan ?

“Iman” itu adalah urusan antara Tuhan dengan makhluk Nya. “Iman” itu bersifat amat pribadi antara kita dengan Tuhan. Tugas kita adalah mengabdi pada Nya agar dapat menjadi “wakil” Nya di muka bumi ini, agar kita dapat menjadi “rahmatan lil ‘alamiin”. Bukan tugas kita untuk mengukur, menilai kadar iman kita, apalagi kadar iman orang lain, bukan tugas kita untuk menjadi penghukum, penghancur bagi alam semesta.

Selanjuutnya terserah pada kita masing-masing, apakah tetap akan berpegang teguh dengan “Iman” percaya kita selama ini ??? Ataukah akan mulai membuka diri, membuka pintu hati dan pikiran untuk mengetahui lebih banyak mengenai ilmu-ilmu Tuhan ???

ADAM MANUSIA PERTAMA DI DUNIA ???

Berapa jumlah benua didunia ? Berapa banyak ras manusia di dunia ? Kalaulah semua manusia di dunia ini hanya berasal dari sepasang manusia yakni Adam-Hawa, mungkin akan banyak ras manusa ??? Timbul pertanyaan : “Mungkinkah Adam-Hawa adalah manusia pertama di bumi ???”

Fakta sejarah dan ilmu pengetahuan telah menenmukan banyaknya jenis manusia yang umurnya diperkirakan lebih tua dari zaman Adam itu sendiri. Hanya saja karena dogma agama yang begitu kuat melekat pada diri peneliti dan penemu kerangka ataupun fosil manusia-mausia purba, sehingga mereka menamakan temuannya itu sebagai manusia kera yang berjalan tegak. Demikian picikkah sehingga tidak bisa menerima bahwa ada manusia yang lebih tua umurnya dari pada Adam ???

Mungkinkah Adam hanyalah makhluk (manusia) pertama yang memiliki budaya ??? Artinya Adamlah manusia yang pertama kali mempunyai aturan, norma, dan kaidah-kaidah serta mengajarkan dan menegakkannya untuk orang banyak.

Tentang kejadian Adam. dijelaskan dalam Al-qur’an pada surat al_baqarah : ‘inni jaa’ilun fil ardh…..’. Pada ayat tersebut dikatakan “menjadikan (jaa’ala)” bukan “mencipakan (kholaqo)”. Dengan perkataan lain, pada saat itu Adan telah diciptakan, telah ada, selanjutnya Adam dijadikan untuk membuat budaya bagi manusia.

Jadi Benarkah Adam adalah manusia pertama ???