Jika iman hanya sebatas “Percaya”, maka apa bedanya “Iman atau percaya” kita kepada Tuhan dengan “Iman atau percaya” kita kepada syetan ??? Jika benar “Iman” kita selama ini hanya “Percaya”, berarti selama ini pula kita telah menyamakan, menyetarakan, mensejajarkan antara Tuhan dan Syetan. Sadarkah kita ???
Banyak penjelasan yang menerangkan tentang “iman” ini. Hadist yang cukup gamblang menjelaskan tentang “Iman” ini antara lain :
- Al ‘Imanu ‘aqdun bilqolbi wa iqrorun bilisaani wa amalun bil arkaani.
- Al ‘Imanu tashdiqun bilqolbi wa iqrorun bilisaani wa amalun bil arkaani.
- Al ‘Imanu ma’rifatun pilqolbi wa iqrorun bilisaani wa amalun bil arkaani.
Nyatanya “Iman” itu bukanlah hal yang mudah untuk dipahami, untuk dilakukan, dan dicapai. Jika memang mudah, mengapa begitu banyak keterangan yang menjelaskan tentang “iman” ???
Apakah “iman” itu dapat kita ketahui ataupun kita rasakan ?
“Iman” itu adalah urusan antara Tuhan dengan makhluk Nya. “Iman” itu bersifat amat pribadi antara kita dengan Tuhan. Tugas kita adalah mengabdi pada Nya agar dapat menjadi “wakil” Nya di muka bumi ini, agar kita dapat menjadi “rahmatan lil ‘alamiin”. Bukan tugas kita untuk mengukur, menilai kadar iman kita, apalagi kadar iman orang lain, bukan tugas kita untuk menjadi penghukum, penghancur bagi alam semesta.
Selanjuutnya terserah pada kita masing-masing, apakah tetap akan berpegang teguh dengan “Iman” percaya kita selama ini ??? Ataukah akan mulai membuka diri, membuka pintu hati dan pikiran untuk mengetahui lebih banyak mengenai ilmu-ilmu Tuhan ???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar